SUMBARNOW.ID-Saham-saham Jepang yang terkait industri pariwisata merosot tajam setelah China mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.
Peringatan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (14/11), menyusul memburuknya hubungan Beijing–Tokyo setelah komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China berupaya mengambil alih Taiwan.
Kementerian Luar Negeri China menyebut pernyataan Takaichi meningkatkan risiko terhadap keamanan pribadi dan nyawa warganya, sehingga imbauan perjalanan perlu dikeluarkan. Situasi tersebut berdampak langsung pada pasar saham Jepang ketika bursa dibuka kembali pada Senin.
Saham perusahaan ritel dan maskapai mengalami tekanan besar. Grup department store Isetan Mitsukoshi jatuh lebih dari 11 persen pada perdagangan siang, sementara rivalnya Takashimaya merosot sekitar 5 persen. Japan Airlines turun sekitar 4 persen, sedangkan Fast Retailing—pemilik merek Uniqlo—turun sekitar 5 persen. Perusahaan kosmetik Shiseido turut mengalami pelemahan signifikan hingga 9,5 persen.
China merupakan sumber wisatawan asing terbesar Jepang, menyumbang hampir seperempat dari total 31,65 juta kunjungan dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut data Japan National Tourism Organization. Penurunan kedatangan wisatawan berpotensi memberi tekanan pada perekonomian Jepang.
Ekonom Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Ryota Abe, memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Jepang dapat menyusut sekitar 0.5 persen bila kedatangan wisatawan China turun drastis. Jika penurunan hanya sepertiga, dampaknya diperkirakan sekitar 0.1–0.2 persen. “Bahkan jika jumlah pengunjung menurun 30 persen akibat meningkatnya ketegangan, dampaknya sekitar 0.1–0.2 persen,” kata Abe kepada Al Jazeera.
Data resmi yang dirilis Senin menunjukkan ekonomi Jepang telah menyusut 0.4 persen pada kuartal Juli–September, kontraksi pertama dalam enam triwulan.
Menanggapi travel warning China, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menyatakan imbauan tersebut tidak konsisten dengan hubungan saling menguntungkan antarnegara. Ia menegaskan Tokyo telah meminta Beijing melakukan “langkah yang sesuai”.
Untuk meredakan ketegangan, pejabat tinggi urusan Asia Pasifik Jepang, Masaaki Kanai, bertolak ke China pada Senin (17/11). Kanai dijadwalkan bertemu pejabat setingkatnya, Liu Jinsong, di Beijing.
Media Jepang melaporkan bahwa Kanai akan menegaskan tidak ada perubahan kebijakan keamanan Tokyo meski ada komentar Takaichi mengenai Taiwan.
Jepang memandang ancaman China atas Taiwan dengan serius karena kedekatan geografis serta jalur perairan yang vital bagi perdagangan.
China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan bertekad melakukan “penyatuan kembali”, termasuk dengan kekuatan militer apabila diperlukan.
Taiwan tidak diakui secara resmi oleh sebagian besar negara tetapi berfungsi layaknya negara berdaulat dengan militer, paspor, serta pemerintah terpilih.(ajz)












