SUMBARNOW.ID-Harga emas naik 1,7% ke sekitar US$4.578 per ons pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman setelah laporan investigasi terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell muncul ke publik.
Selain emas, harga perak juga melonjak lebih dari 4% pada periode yang sama.
Sementara itu, dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang utama seperti franc Swiss dan yen Jepang.
Kontrak Berjangka AS Turun Setelah Powell Konfirmasi Diselidiki
Dikutip dari Investing, Selasa (13/1/2026, kontrak berjangka saham Amerika Serikat melemah tajam usai Powell mengonfirmasi bahwa ia sedang diselidiki terkait testimoni yang ia berikan pada Juni lalu mengenai renovasi gedung Federal Reserve. Laporan investigasi ini pertama kali diungkapkan oleh The New York Times dan segera memengaruhi sentimen pasar.
Pada perdagangan larut malam, kontrak berjangka Nasdaq 100 turun sekitar 0,8%, diikuti pelemahan kontrak berjangka S&P 500 sekitar 0,5%. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average juga melemah sekitar 0,4%. Penurunan tersebut terutama menekan saham-saham teknologi yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Pernyataan Powell Mengenai Investigasi
Powell merilis pernyataan resmi setelah kabar investigasi tersebut muncul. Ia menyampaikan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk Ketua Federal Reserve, yang berada di atas hukum.
Dalam pernyataan itu, ia menuliskan bahwa ancaman yang diterimanya perlu dilihat dalam konteks adanya tekanan dan ancaman berkelanjutan.
Powell menegaskan bahwa investigasi tersebut bukan mengenai testimoni pada Juni lalu atau renovasi gedung Federal Reserve, melainkan sebuah dalih.
Ia menilai ancaman tuntutan pidana muncul karena Federal Reserve menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian internal untuk kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden.
Kekhawatiran Terhadap Independensi The Fed Meningkat
Para ekonom menyoroti bahwa jika intervensi pemerintah terhadap Federal Reserve meningkat, risiko inflasi jangka panjang dapat turut terdorong.
Oxford Economics menyatakan bahwa retaknya independensi The Fed berpotensi menyebar cepat ke pasar keuangan dan meningkatkan biaya pinjaman bagi pelaku usaha.
Dalam catatan yang dirilis pada Juli lalu ketika Trump sempat mengancam akan memberhentikan Powell, Deutsche Bank memperingatkan potensi gangguan besar pada pasar.
Bank tersebut menyebut bahwa pasar mata uang dan obligasi dapat mengalami tekanan berat, mengingat meningkatnya risiko inflasi dan instabilitas keuangan jika independensi bank sentral terganggu.
Pelaku Industri Keuangan Menyuarakan Kekhawatiran
Sejumlah pelaku industri keuangan juga menyampaikan pandangan terkait pentingnya menjaga independensi Federal Reserve.
Brian Moynihan, CEO Bank of America, menegaskan bahwa pasar akan memberikan reaksi negatif jika independensi bank sentral melemah.(*)












