SUMBARNOW.ID-Imane Khelif, juara tinju Olimpiade asal Aljazair, menyatakan kesiapannya untuk menjalani tes jenis kelamin agar dapat bertanding di Olimpiade Los Angeles 2028. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas klaim mantan Presiden AS Donald Trump yang menyebutnya sebagai “petinju pria”.
Khelif, 26 tahun, menjadi sorotan dunia setelah meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024. Namun, kemenangannya menimbulkan kontroversi terkait klaim bahwa ia gagal dalam tes kelayakan gender pada tahun sebelumnya.
Pada 2025, Federasi Tinju Dunia (World Boxing) mengumumkan bahwa setiap petinju wajib menjalani pemeriksaan jenis kelamin untuk bisa bertanding, dan Khelif disebut secara khusus dalam pengumuman tersebut.
Federasi kemudian meminta maaf atas penyebutan itu. Sejak pengenalan tes, Khelif belum bertanding dan membawa kasusnya ke Court of Arbitration for Sport (CAS) untuk bisa bertanding tanpa harus diuji, meski sidang belum dilaksanakan.
Khelif memenangkan medali emas kelas welter putri pada Olimpiade Paris 2024 di tengah kontroversi gender tentang kelayakannya setelah Asosiasi Tinju Internasional mendiskualifikasinya dari Kejuaraan Dunia 2023 berdasarkan tes kromosom gender.
“Tentu saja, saya akan menerima melakukan apa pun yang diwajibkan untuk ikut kompetisi,” kata Khelif kepada CNN. “Mereka harus melindungi perempuan, tapi mereka juga harus memperhatikan agar perlindungan itu tidak merugikan perempuan lain,” tandasnya seperti dilansir dari Dailymail.
Kontroversi ini semakin panas setelah Trump menandatangani perintah eksekutif berjudul “Keeping Men Out of Women’s Sports” pada tahun lalu. Trump menyebut Khelif sebagai “petinju pria” yang “bertransisi” dan “mencuri medali emas wanita” saat Olimpiade Paris. Pernyataan itu diulangnya di depan legislator Partai Republik pada Januari lalu.
Khelif menegaskan kepada media Prancis L’Equipe bahwa klaim Trump keliru. “Saya bukan transgender, saya seorang perempuan. Saya dibesarkan sebagai perempuan, tumbuh sebagai perempuan, dan masyarakat di kampung saya selalu mengenal saya sebagai perempuan,” ujarnya. Khelif diyakini memiliki gen SRY yang terkait kromosom seks pria, namun lahir sebagai perempuan.
Larangan terhadap atlet transgender perempuan diperkirakan akan diberlakukan pada Olimpiade 2028, tetapi masih belum jelas apakah atlet dengan Differences of Sexual Development (DSD) akan terkena pembatasan.
Aturan saat ini memberikan kebebasan tiap cabang olahraga menentukan partisipasi atlet transgender jika tingkat testosteronnya di bawah ambang tertentu.
Komite Olimpiade Internasional (IOC), di bawah Presiden baru Kirsty Coventry, dikabarkan tengah mempertimbangkan perubahan kebijakan yang mungkin melarang semua atlet transgender di Los Angeles.
Pada Olimpiade Paris 2024, IOC menggunakan aturan kelayakan tinju yang diterapkan pada Olimpiade 2021, dan aturan tersebut tidak mencakup tes gender. Selain Imane Khelif, IOC ketika itu juga mengizinkan juara dunia dua kali dari Taiwan, Lin Yu-ting, berkompetisi di Olimpiade.
Meski kontroversi masih berlangsung, Khelif menegaskan fokusnya pada Olimpiade berikutnya. Ia bahkan bercanda bahwa ia berlatih keras agar Trump bisa langsung memasangkan medali di lehernya.
“Jika saya bisa bicara kepada beliau? Pak Presiden, saya seorang perempuan, seorang wanita muda Arab Muslim, seorang petinju. Dan saya bekerja keras agar Anda bisa datang dan memberi saya medali di podium Los Angeles,” kata Khelif.
Setelah kemenangan di Paris, tekanan terhadap Khelif begitu besar sehingga ibunya menyarankan agar ia berhenti dari tinju. Namun, setiap kali terlintas di benaknya, Khelif selalu mengingat perjuangannya dan medali emas yang diraih.
“Tiga bulan setelah Olimpiade, saya melihat medali itu setiap hari. Semua rasa lelah dan pengorbanan saya hilang begitu melihatnya,” ungkapnya.(*)












