Perang AS-Israel vs Iran Picu IEA Lepas 400 Juta Barel Minyak dari Cadangan Darurat

SUMBARNOW.ID-International Energy Agency (IEA) mengumumkan rencana pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara anggotanya sebagai langkah menanggapi lonjakan harga energi global akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan pelepasan 182 juta barel yang dilakukan anggota IEA pada 2022 setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa tantangan pasar minyak saat ini belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga IEA merespons dengan tindakan kolektif darurat dalam skala yang juga belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Birol, produksi minyak di Timur Tengah mulai dikurangi karena terbatasnya jalur distribusi dan ketiadaan kapasitas penyimpanan.

Serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan operasi kilang telah berdampak signifikan.

“Dan kita telah melihat serangan dan kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi dan yang terkait dengan energi. Operasi kilang juga terganggu, dengan implikasi besar khususnya bagi pasokan bahan bakar jet dan diesel,”

Saat ini, anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barell cadangan minyak darurat, ditambah 600 juta barell cadangan industri yang diwajibkan pemerintah.

Sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel memulai perang terhadap Iran, negara tersebut secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak penting bagi negara-negara Teluk, dengan ancaman menyerang kapal.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.

Sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel, Iran menargetkan lapangan minyak dan kilang di negara-negara Teluk Arab dengan tujuan menimbulkan tekanan ekonomi dunia untuk memaksa kedua negara menghentikan perang.

Harga Brent crude telah melonjak lebih dari 25 persen sejak awal konflik dan perdagangan awal minggu ini tercatat mencapai 119 dolar per barell, menandai kali pertama harga minyak melewati 100 dolar per barel sejak 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Setelah pengumuman IEA, Brent diperdagangkan di atas 90 dolar per barell. Analis menilai pelepasan cadangan besar ini belum cukup untuk meredam kekhawatiran gangguan pasokan lebih lanjut akibat serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.

Pelepasan ini diperkirakan setara dengan empat hari produksi minyak global dan 16 hari volume minyak yang melewati Teluk.

Jerman dan Austria menyatakan akan melepas sebagian cadangan setelah permintaan IEA, sementara Jepang mengumumkan pelepasan cadangan mulai Senin mendatang.

Inggris menyumbang 13,5 juta barel dan Korea Selatan 22,46 juta barel dari cadangan strategis mereka.

Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyambut rencana pelepasan ini sebagai langkah untuk meringankan tekanan harga global.

Ia menyatakan dunia tidak menghadapi kekurangan energi akibat perang, melainkan hanya masalah transit sementara yang dapat diselesaikan secara militer dan diplomatik.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk mempertimbangkan melepas sebagian dari aset-aset tersebut guna mengurangi tekanan pada harga global,” katanya.

Meskipun harga minyak sempat rebound, analis menekankan bahwa kecepatan pelepasan cadangan harian lebih menentukan daripada total jumlah cadangan yang dilepas.

Pengumuman ini menyusul pertemuan Menteri Energi G7 di kantor pusat IEA di Paris pada Selasa (10/3/2026). Mereka membahas semua opsi untuk menurunkan harga, termasuk pemanfaatan cadangan minyak darurat IEA.

Cadangan IEA sendiri dibentuk pada 1974 menyusul embargo minyak Arab untuk merespons ketidakstabilan pasokan minyak dunia.

Kenaikan Harga Minyak 85 Negara

Menurut data Global Petrol Prices, sebuah platform data yang melacak dan menerbitkan harga energi ritel di sekitar 150 negara, setidaknya 85 negara telah melaporkan kenaikan harga bensin setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Di AS, harga satu galon bensin biasa (3,785 liter) yang rata-rata $2,94 pada Februari, kini mencapai $3,58 atau naik sebesar 20 persen, menurut data dari AAA Fuel Prices, sebuah pelacak harga bahan bakar ritel dari American Automobile Association (AAA).

Meskipun setiap negara bagian AS menetapkan harga bensinnya sendiri, beberapa negara bagian telah melampaui $4 per galon, dengan California melebihi $5 per galon, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Vietnam mencatat kenaikan harga bensin tertinggi, hampir 50 persen, naik dari $0,75 per liter bensin oktan 95 pada 23 Februari menjadi $1,13 pada 9 Maret. Laos menyusul dengan kenaikan 33 persen, kemudian Kamboja 19 persen, Australia 18 persen, dan AS 17 persen.

Asia sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak dan gasnya, yang telah ditutup sejak awal perang. Selat ini menghubungkan Teluk – yang juga disebut Teluk Persia dan Teluk Arab – dengan Teluk Oman dan merupakan satu-satunya jalur bagi produsen minyak di kawasan ini ke laut lepas.

Jepang dan Korea Selatan termasuk negara yang paling rentan, masing-masing mengimpor 95 persen dan 70 persen minyak mereka dari Teluk.

Kedua negara Asia Timur tersebut telah memberlakukan langkah-langkah darurat untuk menstabilkan pasar energi mereka. Pada tanggal 8 Maret, Jepang menginstruksikan lokasi cadangan minyaknya untuk bersiap menghadapi potensi pelepasan cadangan strategis.

Keesokan harinya, Korea Selatan memperkenalkan batas harga maksimum untuk bensin dan solar untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.(*)

TERPOPULER