7 Kota Besar yang Pernah Menjadi Pusat Peradaban, Kini Tinggal Jejak

SUMBARNOW.ID-Sejumlah kota pernah menjadi pusat perdagangan, kekuasaan, dan kebudayaan. Sebagiannya kemudian ditinggalkan, tertimbun, tersembunyi di bawah hutan atau bahkan berada di bawah laut. Penelitian arkeologi modern perlahan mengungkap kembali jejak kota-kota tersebut.

Peta dunia modern tidak sepenuhnya menggambarkan tempat-tempat yang pernah menjadi pusat kehidupan manusia.

Jauh sebelum kota-kota modern berkembang, berbagai masyarakat telah membangun pusat permukiman dengan jalan, bangunan monumental, tempat ibadah, kawasan perdagangan, sistem pengelolaan air, dan jaringan hubungan antardaerah.

Sebagian kota kemudian kehilangan fungsi dan ditinggalkan. Ada yang tertutup vegetasi, terkubur sedimen, mengalami perubahan lingkungan atau politik, sementara sebagian lainnya berada di bawah laut.

Dalam beberapa kasus, lokasi kota yang lama tidak diketahui kemudian dapat diidentifikasi kembali melalui penelitian arkeologi.

Salah satu contoh terbaru datang dari Irak. Pada 2026, penelitian arkeologi mengidentifikasi situs di Jebel Khayyaber sebagai lokasi yang diyakini merupakan Alexandria on the Tigris, kota yang didirikan pada masa Alexander Agung dan kemudian dikenal dengan nama Charax Spasinou.

Namun, istilah “kota hilang” perlu dipahami secara hati-hati. Tidak semua kota dalam daftar ini benar-benar hilang dari pengetahuan manusia. Ada yang lokasi persisnya baru dapat dipastikan, ada yang ditinggalkan, dan ada pula yang tersembunyi di bawah hutan atau air.

Thonis-Heracleion, kota pelabuhan yang tenggelam

Di Teluk Abu Qir, Mesir, terdapat reruntuhan sebuah kota kuno yang kini berada di bawah laut.

Kota tersebut dikenal sebagai Thonis-Heracleion.

Penelitian arkeologi bawah laut di kawasan itu telah berlangsung sejak 1990-an. Situs resmi proyek Franck Goddio menyebut penelitian dimulai pada 1996 dan penemuan pertama kota tersebut dilakukan pada 2000. Reruntuhannya berada sekitar 6,5 kilometer dari garis pantai modern dan pada kedalaman sekitar 10 meter.

Penelitian bersama European Institute of Underwater Archaeology dan Oxford Centre for Maritime Archaeology kemudian mengungkap berbagai peninggalan, termasuk struktur pelabuhan, kapal karam, patung, prasasti, benda keagamaan, dan artefak yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi serta keagamaan kota. University of Oxford mencatat Thonis-Heracleion sebagai kota pelabuhan yang kini tenggelam di Teluk Aboukir.

Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut proses tenggelamnya kota berkaitan dengan faktor geologi dan lingkungan, termasuk gempa bumi serta kenaikan muka laut.

Thonis-Heracleion menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa sebuah kota dapat menghilang dari permukaan, tetapi jejak kehidupan masyarakatnya tetap tersimpan di bawah laut.

Alexandria on the Tigris, kota Alexander yang lama dicari

Alexander Agung mendirikan sejumlah kota yang membawa namanya. Salah satunya adalah Alexandria on the Tigris di Mesopotamia.

Selama bertahun-tahun, lokasi persis kota tersebut menjadi persoalan arkeologi.

Pada Februari 2026, Archaeological Institute of America melaporkan penelitian yang mengidentifikasi situs di Jebel Khayyaber, Irak, sebagai lokasi yang diyakini merupakan Alexandria on the Tigris.

Survei di kawasan tersebut menunjukkan jejak pusat urban yang terencana, termasuk struktur bangunan dan jaringan yang berkaitan dengan kehidupan perkotaan.

Kota tersebut kemudian dikenal sebagai Charax Spasinou. Penelitian arkeologi menunjukkan pentingnya lokasi itu dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan kawasan Mesopotamia dengan rute menuju Teluk Persia dan wilayah Asia.

Penemuan ini penting bukan karena sebuah kota tiba-tiba muncul dari tanah pada 2026, melainkan karena penelitian baru membantu memperkuat identifikasi lokasi kota kuno yang selama ini menjadi persoalan.

Kasus Alexandria on the Tigris menunjukkan bagaimana sumber tertulis, survei lanskap, dan bukti arkeologi dapat digunakan bersama untuk mencari kembali sebuah kota yang lama tidak diketahui secara pasti lokasinya.

Cahokia, pusat urban besar di Amerika Utara

Di kawasan yang kini menjadi Illinois, Amerika Serikat, pernah berkembang salah satu pusat permukiman terbesar di Amerika Utara sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Namanya Cahokia.

UNESCO mencatat Cahokia sebagai permukiman pra-Columbus terbesar di sebelah utara Meksiko. Situs tersebut berkembang terutama pada periode Mississippian, sekitar 800–1400, dan pada masa puncaknya mencakup hampir 1.600 hektare dengan sekitar 120 gundukan tanah.

UNESCO memperkirakan masyarakat Cahokia mungkin berjumlah sekitar 10.000 hingga 20.000 orang pada puncaknya antara 1050 dan 1150. Salah satu struktur terpentingnya adalah Monks Mound, gundukan tanah monumental yang menjadi struktur prasejarah terbesar di kawasan tersebut.

Cahokia kemudian mengalami kemunduran dan kehilangan peran sebagai pusat permukiman.

Namun, penyebab proses tersebut tidak dapat dipastikan hanya dengan satu penjelasan. Penelitian mengenai Cahokia terus menguji berbagai kemungkinan, termasuk perubahan lingkungan dan dinamika sosial. Salah satu studi bahkan menolak hipotesis bahwa deforestasi akibat aktivitas masyarakat menyebabkan banjir besar yang membuat kawasan tersebut tidak layak dihuni.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa alasan lengkap di balik ditinggalkannya Cahokia masih menjadi bahan penelitian, bukan menyebut satu penyebab sebagai fakta pasti.

Merv, kota-kota yang tumbuh di oasis Jalur Sutra

Di Turkmenistan terdapat kawasan arkeologi yang memperlihatkan sejarah urban selama ribuan tahun.

Kawasan itu dikenal sebagai Ancient Merv.

UNESCO menjelaskan Merv sebagai salah satu kota oasis tertua dan paling terpelihara di sepanjang Jalur Sutra di Asia Tengah. Sisa-sisa kawasan tersebut mencakup sekitar 4.000 tahun sejarah manusia.

Namun, Merv tidak sebaiknya dipahami sebagai satu kota yang berdiri di tempat yang sama sepanjang sejarah.

Kawasan oasis Merv memiliki serangkaian pusat urban yang berkembang pada masa berbeda. UNESCO mencatat perkembangan pusat-pusat tersebut berkaitan dengan perubahan aliran Sungai Murgab yang secara bertahap bergeser dari timur ke barat.

Karena itu, sejarah Merv lebih tepat dipahami sebagai sejarah sebuah lanskap perkotaan yang berubah.

Kawasan tersebut menjadi penting dalam jaringan perdagangan dan kebudayaan Asia Tengah. Kota-kota di oasis Merv juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan arsitektur dan budaya di Asia Tengah dan Iran selama berabad-abad.

Yang tersisa sekarang adalah kompleks arkeologi yang memperlihatkan berbagai lapisan perkembangan kota dari masa yang berbeda.

Palmyra, kota oasis di persimpangan perdagangan dunia

Di gurun Suriah terdapat Palmyra, kota oasis yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan penting dunia kuno.

UNESCO mencatat bahwa Palmyra berkembang di jalur perdagangan yang menghubungkan Persia, India, dan China dengan Kekaisaran Romawi. Posisi tersebut menjadikannya salah satu titik pertemuan berbagai peradaban.

Kota tersebut berkembang pesat terutama pada abad pertama hingga kedua Masehi. Peninggalannya mencakup jalan monumental dengan deretan kolom sepanjang sekitar 1.100 meter, kuil, agora, teater, kawasan permukiman, serta sejumlah struktur monumental lainnya.

Palmyra bukan contoh kota yang lokasinya baru ditemukan oleh arkeolog modern. Reruntuhannya sudah dikenal oleh para pelancong Eropa sejak abad ke-17 dan ke-18.

Karena itu, Palmyra lebih tepat disebut sebagai kota yang kehilangan kejayaannya dan berubah menjadi situs reruntuhan, bukan kota yang benar-benar hilang dari pengetahuan manusia.

Perbedaan ini penting karena istilah “kota hilang” sering kali menyederhanakan sejarah yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

Samarra, ibu kota Abbasiyah yang ditinggalkan

Di Irak terdapat Samarra, kota yang pernah menjadi ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah.

UNESCO mencatat kota kuno Samarra bertanggal 836–892 dan menjadi pusat politik penting kekhalifahan tersebut. Kawasan arkeologinya membentang sangat luas di sepanjang Sungai Tigris dan menyimpan masjid, istana, permukiman serta struktur perkotaan lainnya.

Samarra menarik karena kota tersebut ditinggalkan relatif lebih awal sehingga tidak mengalami pembangunan ulang terus-menerus seperti sejumlah kota besar lainnya.

UNESCO menyebut Samarra sebagai satu-satunya ibu kota Islam yang masih mempertahankan rencana kota, arsitektur, dan seni aslinya dalam tingkat yang luar biasa.

Samarra kemudian kehilangan statusnya sebagai pusat kekuasaan ketika pemerintahan Abbasiyah kembali ke Baghdad.

Jadi, Samarra bukan kota yang “ditemukan kembali” karena lokasinya hilang. Yang hilang adalah fungsi kota tersebut sebagai ibu kota dan pusat politik.

Justru karena ditinggalkan relatif awal, jejak tata kota Abbasiyah dapat dipelajari dengan sangat jelas.

Valeriana, kota Maya yang tersembunyi di bawah hutan

Kasus lain menunjukkan bagaimana teknologi modern dapat membuka kembali lanskap yang selama berabad-abad tertutup vegetasi.

Pada 2024, peneliti menganalisis kembali data LiDAR yang sebelumnya dikumpulkan untuk pemantauan lingkungan di Campeche, Meksiko.

Analisis ulang data tersebut mengungkap jaringan permukiman Maya, termasuk sebuah pusat urban yang kemudian dinamai Valeriana.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki ciri-ciri pusat politik Maya, termasuk plaza, piramida kuil, lapangan permainan bola, reservoir, dan jaringan jalan. Data LiDAR yang dianalisis mencakup sekitar 122 kilometer persegi dan mengidentifikasi ribuan struktur.

Namun, angka ribuan struktur tersebut perlu dipahami dengan benar.

Data LiDAR mengidentifikasi 6.764 struktur dalam area penelitian, bukan berarti seluruh struktur tersebut merupakan bangunan monumental atau semuanya dapat dipastikan sebagai bagian dari satu kota. Sejumlah interpretasi masih memerlukan verifikasi arkeologi di lapangan.

Temuan Valeriana memperlihatkan kekuatan teknologi LiDAR dalam membaca permukaan tanah yang tertutup vegetasi.

Kota tersebut sebenarnya tidak pernah benar-benar “hilang” secara fisik.

Ia hanya tidak terlihat dari permukaan.

Mengapa kota-kota besar bisa hilang?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua kota.

Thonis-Heracleion berada di bawah laut dan penelitian mengaitkan perubahan lingkungan serta aktivitas geologi dengan proses tenggelamnya kawasan tersebut.

Merv memperlihatkan bagaimana perubahan aliran Sungai Murgab berkaitan dengan perpindahan pusat-pusat urban di sebuah oasis.

Samarra kehilangan fungsi politiknya setelah periode sebagai ibu kota Abbasiyah berakhir.

Sementara itu, penyebab lengkap kemunduran Cahokia masih menjadi bahan penelitian dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu faktor.

Ada pula kota seperti Alexandria on the Tigris yang lama tidak dapat dipastikan lokasinya, hingga penelitian arkeologi modern memberikan bukti baru mengenai lokasi yang diyakini sebagai situs tersebut.

Dengan demikian, sebuah kota dapat “hilang” dengan berbagai cara: ditinggalkan, kehilangan fungsi politik atau ekonomi, tertutup vegetasi, berubah akibat proses lingkungan, tenggelam, atau terlupakan lokasinya dalam pengetahuan modern.

Kota yang hilang belum tentu benar-benar hilang

Kisah kota-kota tersebut menunjukkan bahwa peta modern bukanlah catatan lengkap mengenai sejarah manusia.

Di bawah hutan dapat tersimpan jalan dan bangunan.

Di bawah air dapat ditemukan pelabuhan, kapal dan artefak.

Di tengah gurun dapat berdiri reruntuhan kota yang pernah menjadi pusat perdagangan internasional.

Dan di sebuah lanskap yang selama berabad-abad tampak biasa, survei arkeologi dapat menemukan bukti kehidupan masyarakat yang pernah berkembang di sana.

Teknologi seperti LiDAR, survei geofisika, pemetaan udara dan penelitian bawah laut semakin memperluas kemampuan arkeolog membaca jejak tersebut. Kasus Valeriana menunjukkan bagaimana data yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan lain dapat membuka informasi baru mengenai peradaban masa lalu.

Sementara itu, penemuan kembali lokasi yang diyakini sebagai Alexandria on the Tigris menunjukkan bahwa bahkan kota yang lokasinya telah lama menjadi persoalan masih dapat ditelusuri melalui perpaduan sumber sejarah dan bukti arkeologi.

Pada akhirnya, kota-kota yang disebut “hilang” bukan hanya cerita tentang reruntuhan.

Mereka adalah rekaman tentang bagaimana manusia membangun permukiman, mengelola lingkungan, berdagang, menciptakan pusat kekuasaan, berpindah, dan meninggalkan tempat yang pernah menjadi pusat kehidupan.

Sebuah kota mungkin hilang dari peta modern, tetapi jejak kehidupan di dalamnya masih dapat ditemukan berabad-abad kemudian. (*)

TERPOPULER