SUMBARNOW.ID — Sebanyak 1.737 titik panas (hotspot) terpantau di Sumatera Selatan berdasarkan data rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per Selasa (15/9/2026). Pada hari yang sama, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, hadir di Palembang untuk mengevaluasi penanganan karhutla bersama pemerintah daerah dan unsur terkait.
Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan tersebut digelar di Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Rapat ini menjadi momentum untuk melihat perkembangan penanganan karhutla sekaligus memastikan langkah pemerintah pusat dan daerah berjalan dalam satu koordinasi.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya. Sementara itu, BMKG memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan potensi yang dapat memengaruhi perkembangan kebakaran.
Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi penanganan di lapangan.
1.737 Hotspot Terdeteksi di Sumatera Selatan
Berdasarkan data rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera Selatan yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (15/9), terdapat 1.737 hotspot di wilayah Sumatera Selatan.
Namun, jumlah hotspot bukan satu-satunya ukuran dalam melihat penanganan karhutla. Setiap titik tetap perlu diverifikasi karena kondisi yang terpantau dapat berbeda dengan keadaan sebenarnya di lapangan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, karakteristik lahan gambut juga menjadi tantangan dalam penanganan. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu, ketika api terlihat padam, proses penanganan belum tentu selesai.
“Petugas masih harus melakukan pembasahan, pendinginan, dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Di sejumlah lokasi, proses tersebut bahkan membutuhkan waktu berhari-hari,” jelasnya.
Luas Lahan Terbakar Capai 404,22 Hektare
Data Posko Satgas Karhutla Sumatera Selatan per 14 September mencatat luas lahan terbakar mencapai 404,22 hektare.
Sejumlah wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang.
Penanganan di lapangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari personel BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan hingga masyarakat.
Dari darat, petugas melakukan pemadaman dan pendinginan. Sementara dari udara, pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan titik api dan kondisi wilayah yang sulit dijangkau.
Penanganan Karhutla Diperkuat di Sejumlah Wilayah
Pada Rabu (16/9/2026), penanganan karhutla terus diperkuat BNPB bersama pemerintah daerah dan satgas di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa operasi dilakukan melalui pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing serta penanganan dari darat berupa pemadaman, pendinginan, penyekatan, dan pemantauan di sejumlah lokasi prioritas.
Di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi, operasi udara dan darat terus menyasar lokasi karhutla yang masih memerlukan penanganan.
Upaya serupa juga berlangsung di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, dengan melibatkan satgas darat untuk mempercepat pengendalian di lapangan.
Sementara di Kalimantan Barat, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah. Upaya tersebut berlangsung bersamaan dengan operasi udara dan darat dalam menangani karhutla.
“Seluruh upaya dilakukan secara berkelanjutan untuk mengendalikan kebakaran dan memastikan keselamatan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi BNPB.
Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang
Karhutla tidak hanya berkaitan dengan munculnya api. Sebaran asap juga dapat berdampak terhadap kualitas udara dan jarak pandang masyarakat.
Pada 13 September, jarak pandang di kawasan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, sempat berada pada kisaran 2–4 kilometer pada dini hingga pagi hari akibat dampak asap karhutla.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan di luar lokasi kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan memengaruhi aktivitas masyarakat, transportasi hingga kesehatan.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan tidak hanya mengandalkan petugas pemadam.
Pemerintah Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla
Rapat evaluasi di Palembang menjadi ruang untuk menyatukan berbagai informasi mengenai kondisi karhutla di Sumatera Selatan.
Pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi kondisi terkini, melihat efektivitas operasi yang telah dilakukan, sekaligus menentukan langkah yang diperlukan untuk menghadapi perkembangan karhutla ke depan.
Kepala BNPB dan Menteri Kehutanan memberikan arahan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif.
Penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, percepatan respons, serta memastikan api benar-benar padam menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.
Menghadapi karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa dini api dapat dicegah agar tidak membesar.
Di tengah kondisi lahan yang mulai mengering, satu titik api yang terlambat ditangani dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Sebaliknya, laporan masyarakat yang cepat, patroli yang tepat waktu, dan proses pendinginan yang dilakukan secara menyeluruh dapat membantu mencegah api berkembang. (*)












