SUMBARNOW.ID-Analis Morgan Stanley mempertanyakan kembali fungsi emas sebagai aset safe haven setelah logam mulia tersebut tercatat masih 10 persen di bawah level sebelum konflik, sementara sejumlah aset lain telah pulih penuh.
Kondisi tersebut muncul ketika emas justru menunjukkan korelasi 90 persen dengan indeks S&P 500 dalam enam bulan hingga Januari.
Kinerja Emas Tertahan Dampak Guncangan Pasokan
Dikutip dari Investing, Senin (20/4/2026), laporan Morgan Stanley menjelaskan bahwa pelemahan emas saat ini dipengaruhi guncangan pasokan global yang membawa implikasi kebijakan moneter berbeda dari guncangan permintaan.
Imbal hasil obligasi yang baru pulih sebagian dari level pra-konflik turut membuat emas—yang tidak memberikan imbal hasil—kurang menarik dalam portofolio investor.
Penjualan Fisik Emas Meningkat dari Berbagai Negara
Penjualan emas fisik meningkat selama periode tersebut. Financial Times mencatat bank sentral Turki menjual 52 ton emas antara 27 Februari–27 Maret, serta mengatur swap emas sebesar 79 ton.
Pembelian emas oleh sejumlah bank sentral lain juga melambat pada kuartal pertama, meski sejak 2022 mereka menjadi pembeli utama emas global.
Pemerintah India menunda persetujuan impor bullion dalam upaya menekan tekanan terhadap nilai tukar.
Di sisi lain, exchange-traded funds (ETF) melepas sekitar 90 ton emas pada Maret, dari total 150 ton yang dibeli sepanjang Januari–Februari.
Morgan Stanley Melihat Peluang Pemulihan Harga Emas
Meski tekanan masih berlangsung, Morgan Stanley menilai peluang pemulihan harga tetap terbuka. ETF dilaporkan telah membeli kembali hampir setengah dari penjualan emas pada Maret meski real yields belum pulih sepenuhnya.
Ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat juga kembali mengarah pada peluang lebih besar terjadinya pemangkasan daripada kenaikan pada akhir tahun.
Bank sentral China mencatat peningkatan cadangan emas bulanan terbesar sejak Januari 2025, empat hingga lima kali lebih cepat dibanding bulan-bulan sebelumnya, yang mengindikasikan pembelian saat harga terkoreksi.
Pelemahan dolar memberi dukungan tambahan terhadap pasar emas.
Morgan Stanley memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 5.200 per ounce pada paruh kedua 2026.
Risiko penurunan tetap ada apabila konflik kembali meningkat, imbal hasil obligasi naik, atau terjadi penjualan aset safe haven untuk memenuhi margin call ketika pasar saham melemah.(*)












