SUMBARNOW.ID – Dolar AS menguat, sementara harga emas justru naik setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75-4,00 persen. Pada 17 September 2026, harga emas spot tercatat naik sekitar 1,2 persen menjadi US$4.314,64 per troy ounce, meski indeks dolar AS berada di sekitar 100,3 dan mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa hubungan dolar AS dan emas tidak selalu berjalan berlawanan. Keputusan The Fed, imbal hasil Treasury AS, kondisi geopolitik, harga energi, serta sentimen investor turut memengaruhi pergerakan kedua aset tersebut dan memberikan dampak terhadap pasar global, termasuk rupiah.
Namun, ada satu hal penting dari perdagangan 17 September 2026: penguatan dolar AS tidak otomatis membuat harga emas turun. Harga emas spot justru naik pada perdagangan Kamis, menunjukkan bahwa pasar emas dipengaruhi lebih dari satu faktor.
The Fed Naikkan Suku Bunga Menjadi 3,75-4 Persen
Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September 2026 memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.
Keputusan tersebut disetujui melalui pemungutan suara 12-0.
Dalam pernyataannya, The Fed menyebut aktivitas ekonomi Amerika Serikat berkembang dengan laju yang solid. Belanja domestik dinilai tetap tangguh, pertumbuhan produktivitas kuat, investasi modal tetap tinggi, sementara pertumbuhan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja.
Di sisi lain, The Fed menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi. Bank sentral AS mengatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen.
Kebijakan itu turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya
The Fed Masih Membuka Ruang Kenaikan Suku Bunga
Proyeksi ekonomi terbaru The Fed menunjukkan median proyeksi federal funds rate pada akhir 2026 berada di sekitar 4,1 persen.
Dari 18 peserta yang menyampaikan proyeksi, 16 peserta memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada 2026, sementara dua peserta memproyeksikan suku bunga tetap dari level setelah keputusan September.
Proyeksi tersebut bukan keputusan yang mengikat untuk rapat berikutnya. The Fed tetap menentukan kebijakan berdasarkan perkembangan data ekonomi, inflasi, pasar tenaga kerja, serta risiko terhadap perekonomian.
Karena itu, sinyal kenaikan berikutnya sebaiknya dibaca sebagai proyeksi para pejabat, bukan kepastian bahwa The Fed pasti kembali menaikkan suku bunga.
Mengapa Dolar AS Menguat?
Setelah keputusan The Fed, dolar AS menguat bersama kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS.
Reuters melaporkan indeks dolar berada di sekitar 100,3, mendekati level terkuat sejak 31 Juli. Sementara itu, imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun berada di sekitar 4,7153 persen, level tertinggi sejak 2024.
Salah satu faktor yang diperhatikan pasar adalah perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga AS.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar karena investor mempertimbangkan imbal hasil yang tersedia di pasar AS. Perubahan ekspektasi tersebut kemudian dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar dan mata uang negara lain.
Sementara itu, euro berada di sekitar US$1,1463, mendekati level terendah dalam tujuh minggu, sedangkan yen berada di sekitar 155,98 per dolar AS.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi Global?
Penguatan dolar tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing. Karena dolar memiliki peran penting dalam perdagangan dan sistem keuangan internasional, perubahannya dapat memengaruhi negara yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar.
1. Mata uang negara berkembang dapat mendapat tekanan
Penguatan dolar dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, terutama ketika imbal hasil aset AS meningkat dan investor menyesuaikan portofolionya.
Reuters melaporkan meningkatnya daya tarik dolar dan tingginya yield Treasury AS turut menambah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia berkembang.
Namun, kondisi setiap negara berbeda. Faktor domestik, neraca perdagangan, harga komoditas, kebijakan bank sentral, dan kondisi fiskal juga memengaruhi nilai tukar masing-masing mata uang.
2. Barang dan kewajiban dalam dolar dapat menjadi lebih mahal
Ketika mata uang domestik melemah terhadap dolar, biaya dalam mata uang lokal untuk membayar barang, jasa, atau kewajiban yang dihitung dalam dolar dapat meningkat.
Dampaknya terutama relevan bagi negara yang memiliki kebutuhan impor atau kewajiban luar negeri dalam dolar AS.
Besarnya pengaruh tidak sama untuk setiap negara karena bergantung pada struktur perdagangan, penggunaan mata uang dalam transaksi, serta kebijakan ekonomi masing-masing.
3. Bank sentral negara lain ikut memperhatikan kebijakan The Fed
Perubahan suku bunga AS dapat menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan bank sentral negara lain ketika menentukan kebijakan moneternya.
Pergerakan nilai tukar, arus modal, inflasi, dan kondisi pasar keuangan menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.
Bagaimana Dampaknya bagi Rupiah?
Pengaruh keputusan The Fed juga terlihat pada pergerakan rupiah pada 17 September 2026.
ANTARA melaporkan rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.739 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.696 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah saat itu dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi pasar global.
Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang dikutip ANTARA menunjukkan posisi rupiah pada 16 September berada di Rp17.712 per dolar AS, dibandingkan Rp17.687 pada hari sebelumnya.
Dengan demikian, perkembangan dolar AS dan kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor eksternal yang diperhatikan pasar rupiah, meskipun pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi faktor domestik.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Harga Emas?
Hubungan dolar AS dan emas sering kali dipahami secara sederhana: ketika dolar menguat, emas tertekan.
Ada dasar ekonominya. Emas di pasar internasional umumnya dihargai dalam dolar AS. Ketika dolar menguat, emas dapat menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Selain itu, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset yang menghasilkan bunga. Reuters mencatat bahwa meskipun emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas dibandingkan aset berbunga.
Namun, hubungan tersebut bukan aturan mutlak.
Emas Justru Naik pada 17 September
Perdagangan 17 September 2026 menjadi contoh bahwa harga emas tidak hanya ditentukan oleh dolar dan suku bunga.
Reuters melaporkan harga emas spot naik 1,2 persen menjadi US$4.314,64 per troy ounce pada pukul 07.10 GMT, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam hampir enam minggu.
Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru turun 0,8 persen menjadi US$4.353,90 per troy ounce. Perbedaan ini penting karena harga spot dan futures merupakan instrumen yang berbeda.
Kenaikan emas spot pada perdagangan tersebut terjadi ketika pasar sedang mencerna keputusan The Fed yang sudah banyak diantisipasi sebelumnya.
Analis OANDA Kelvin Wong yang dikutip Reuters, menyebut faktor teknikal menjadi salah satu pendorong kenaikan emas saat itu. Ia juga menyoroti perkembangan harga minyak sebagai faktor yang perlu diperhatikan.
Mengapa Harga Emas Tidak Otomatis Turun Saat Dolar Menguat?
Pergerakan emas dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor.
Selain dolar dan suku bunga, investor juga memperhatikan inflasi, imbal hasil obligasi, kondisi ekonomi, harga energi, ketidakpastian geopolitik, serta permintaan terhadap aset yang dianggap dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai.
Dalam perdagangan 17 September, harga minyak melemah setelah muncul laporan mengenai tambahan pasokan minyak mentah dari Arab Saudi melalui Oman. Pergerakan harga minyak tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar emas.
Karena banyak variabel bergerak secara bersamaan, perubahan harga emas tidak dapat dijelaskan hanya dengan melihat indeks dolar.
Bagaimana dengan Harga Emas di Indonesia?
Untuk pasar domestik, harga emas batangan tidak hanya dipengaruhi harga emas dunia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor penting karena harga emas global ditransaksikan dalam dolar.
Dengan demikian, perubahan harga emas global dan perubahan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi harga emas dalam rupiah.
Berdasarkan data resmi Logam Mulia per Kamis, 17 September 2026, harga dasar emas batangan Antam 24 karat tercatat naik Rp5.000 menjadi Rp2.598.000 per gram. Sedangkan, harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam stabil di level Rp2.438.000 per gram.
Berikut daftar harga emas batangan ANTAM yang diperbarui pada Kamis, 17 September 2026 pukul 08.30 WIB:
| Berat | Harga Dasar | Harga + Pajak PPh 0,25% |
|---|---|---|
| 0,5 gram | Rp1.349.000 | Rp1.352.373 |
| 1 gram | Rp2.598.000 | Rp2.604.495 |
| 2 gram | Rp5.136.000 | Rp5.148.840 |
| 3 gram | Rp7.679.000 | Rp7.698.198 |
| 5 gram | Rp12.765.000 | Rp12.796.913 |
| 10 gram | Rp25.475.000 | Rp25.538.688 |
Apa yang Perlu Diperhatikan Pasar?
Perkembangan pada 17 September menunjukkan tiga hal penting.
Pertama, The Fed telah menaikkan suku bunga ke 3,75-4,00 persen dan proyeksi para pejabat masih membuka kemungkinan kenaikan berikutnya pada 2026.
Kedua, dolar AS menguat ke sekitar level tertinggi tujuh minggu, sementara yield Treasury AS ikut meningkat setelah keputusan The Fed.
Ketiga, harga emas spot justru naik, sehingga penguatan dolar tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menjelaskan pergerakan emas.
Bagi ekonomi global, perubahan tersebut penting karena dolar, suku bunga AS, dan pasar obligasi AS memiliki hubungan erat dengan arus modal serta nilai tukar berbagai negara.
Bagi Indonesia, perkembangan dolar perlu diperhatikan bersama kondisi rupiah, kebijakan Bank Indonesia, harga komoditas, serta perkembangan pasar global.
Dengan demikian, dolar AS yang menguat tidak otomatis berarti harga emas akan turun. Pergerakan keduanya tetap bergantung pada kombinasi kebijakan moneter, inflasi, imbal hasil obligasi, harga energi, kondisi geopolitik, dan sentimen pasar. (*)












