SUMBARNOW.ID-Asosiasi Sepak Bola Irlandia (Football Association of Ireland/ FAI) resmi menyerukan UEFA untuk menangguhkan tim nasional dan klub-klub Israel dari kompetisi internasional.
Desakan tersebut muncul setelah Israel dinilai melanggar dua ketentuan statuta UEFA, yaitu tidak menerapkan kebijakan antirasisme yang efektif dan menempatkan klub-klubnya di wilayah Palestina yang diduduki tanpa izin Palestinian Football Association (PFA).
Resolusi ini mendapat dukungan mayoritas dari anggota FAI, dengan 74 suara setuju, 7 menolak, dan 2 abstain, menurut pernyataan resmi FAI.
FAI mengambil langkah ini menyusul permintaan serupa dari federasi sepak bola Turki dan Norwegia pada September 2025, yang menuntut suspensi Israel dari kompetisi internasional.
Tekanan meningkat setelah para ahli PBB meminta FIFA dan UEFA menangguhkan Israel, mengutip laporan Komisi Penyelidikan PBB yang menilai Israel melakukan genosida selama perang di Gaza.
Lebih dari 30 ahli hukum juga menuntut UEFA melarang Israel dan klub-klubnya karena dampak perang terhadap olahraga di Gaza.
Sejak Oktober 2023, sedikitnya 421 pemain sepak bola Palestina tewas, sementara infrastruktur sepak bola di Gaza rusak parah akibat serangan udara Israel.
Presiden FIFA Gianni Infantino menanggapi isu ini sebagai masalah geopolitik, dan menyatakan bahwa FIFA berkomitmen menggunakan sepak bola untuk menyatukan orang di dunia yang terpecah.
“Kami berkomitmen untuk menggunakan kekuatan sepak bola untuk menyatukan masyarakat di dunia yang terpecah belah,” kata Infantino, dilansir Al Jazeera.
Namun, menurut Abdullah Al-Arian, Associate Professor di Georgetown University Qatar, perlakuan yang diberikan kepada Israel menunjukkan “impunitas total” yang dinikmati negara tersebut selama konflik, yang tercermin dalam kebijakan organisasi olahraga internasional.
Pada 2024, PFA menuduh Israel Football Association (IFA) melanggar statuta FIFA terkait perang di Gaza dan keikutsertaan klub-klub di permukiman ilegal di Palestina. PFA mendesak FIFA menjatuhkan sanksi internasional, termasuk larangan bertanding bagi tim nasional dan klub Israel.
Namun, keputusan tersebut ditunda dan dialihkan ke komite disipliner FIFA, yang menurut Al-Arian hanya menunda tindakan nyata karena keputusan politik tetap berada di level tertinggi organisasi.(*)












