Iran Isi Ulang Peluncur Rudal dan Drone Selama Gencatan Senjata

SUMBARNOW.ID-Komandan senior militer Iran mengklaim bahwa kemampuan negara itu dalam mengisi ulang peluncur rudal dan drone mengalami peningkatan signifikan selama dua pekan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan itu disampaikan oleh Komandan Satuan Udara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Seyed Majid Mousavi, melalui unggahan video di platform UpScrolled pada Minggu (29/4/2026), dikutip dari Press TV.

Dalam video yang dibagikan, Jenderal Mousavi memperlihatkan proses penggantian peluncur rudal dan drone yang menurutnya telah dilakukan dengan kecepatan lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

“Kecepatan Iran dalam memperbarui dan mengisi ulang peluncur rudal dan drone telah melampaui kecepatan sebelum perang,” katanya.

Mousavi menambahkan bahwa pihaknya memahami musuh tidak mampu mencapai kondisi serupa selama masa gencatan senjata.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan-laporan yang membantah klaim bahwa agresi gabungan AS–Israel dalam beberapa minggu telah melemahkan kemampuan strategis Iran.

Mousavi turut menyinggung Selat Hormuz, yang menurut IRGC kembali ditutup pada Sabtu (18/4/2026) setelah dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh AS.

IRGC juga menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS yang terus berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran merupakan tindakan yang sama dengan pembajakan.

Dalam unggahan lain, Mousavi memuji strategi militer yang dirancang oleh pemimpin Revolusi Iran yang telah wafat, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang menurutnya membuka jalan bagi kemenangan Iran atas dua musuhnya.

Ia menyebut bahwa strategi perang asimetris Khamenei, teknologi rudal buatan dalam negeri, serta ketergantungan pada ilmuwan dan pejuang muda merupakan faktor penting yang memungkinkan Iran “berdiri tegak melawan iblis-iblis terkuat di dunia.”

Militer Iran pada awal pekan juga menyampaikan bahwa jika keamanan pelabuhan Iran di perairan Teluk Persia dan Laut Arab terancam, maka tidak ada pelabuhan lain di wilayah tersebut yang akan aman.

Angkatan Bersenjata Iran menyatakan tetap waspada dan siap menghancurkan setiap ancaman, terutama setelah lebih dari 40 hari menghadapi agresi militer dari AS dan Israel sejak 28 Februari.

Sebagai respons awal terhadap serangan tersebut, Teheran membatasi akses Selat Hormuz bagi musuh dan sekutu mereka sebagai bagian dari manuver strategis.

Gangguan pada jalur perairan vital yang menjadi titik transit sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global itu telah memicu inflasi dan memperlambat ekonomi internasional.(*)

TERPOPULER