Shell Raup Untung Besar Saat Gejolak Perang AS-Iran Guncang Harga Minyak Dunia

SUMBARNOW.ID-Perusahaan minyak dan gas multinasional terbesar di dunia yang berbasis di Inggris, Shell membukukan laba sebesar USD6,9 miliar atau sekitar Rp110,4 triliun, pada kuartal pertama 2026 di tengah gejolak harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat dan Iran.

Perusahaan energi tersebut menyebut gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global justru mendorong peningkatan keuntungan perusahaan.

Dalam laporan pendapatan kuartal pertama yang dirilis Kamis (7/5/2026) waktu setempat, Shell mengungkapkan laba yang disesuaikan mencapai USD6,9 miliar atau naik sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu juga melampaui ekspektasi analis yang berada di kisaran USD6,1 miliar.

Shell menyebut sekitar 20 persen produksi minyak dan gas perusahaan berada di Timur Tengah. Namun sekitar setengahnya berasal dari Oman sehingga pengiriman tidak harus melewati Selat Hormuz.

Meski demikian, gangguan produksi di kawasan, terutama di Qatar, menyebabkan penurunan output sekitar 4 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Shell memperkirakan dampak tersebut akan berlanjut pada kuartal berjalan. Produksi gas terintegrasi diproyeksikan turun lebih dari sepertiga, sementara volume pencairan LNG diperkirakan turun hingga 14 persen.

Perusahaan juga memperkirakan tidak ada produksi dari Qatar pada kuartal ini, yang berdampak pada hilangnya sekitar 300 ribu barel minyak per hari. “Itu dampak yang material,” kata CEO Shell Wael Sawan kepada Financial Times.

Sawan juga menyebut fasilitas utama Shell di Qatar membutuhkan waktu satu tahun untuk kembali beroperasi penuh. CFO Shell Sinead Gorman mengatakan perbaikan fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari setengah miliar dolar AS.

Selain itu, Shell mencatat kerugian USD2,4 miliar akibat kontrak lindung nilai di tengah volatilitas harga energi.

Meski menghadapi tekanan produksi, kinerja unit kimia dan produk Shell yang mencakup pemurnian serta perdagangan minyak mencatat laba USD1,9 miliar.

Lonjakan keuntungan perusahaan disebut didorong perubahan harga yang cepat sehingga meningkatkan permintaan lindung nilai dari pembeli besar seperti maskapai penerbangan dan perusahaan utilitas.

“Saya pikir kinerja operasional kami, khususnya di masa volatilitas, dengan memanfaatkan perdagangan, memungkinkan kami menciptakan nilai nyata dan menghasilkan arus kas pada situasi seperti ini,” ujar Sawan dalam panggilan analis.

Namun Shell juga memperingatkan volatilitas berkepanjangan dapat berdampak terhadap bisnis perusahaan. Shell memangkas pembelian kembali saham kuartalan dari USD3,5 miliar menjadi USD3 miliar karena memperkirakan pasar energi akan semakin ketat seiring tingginya harga yang dapat melemahkan permintaan.

“Kami telah menggali lubang kekurangan minyak mentah hampir 1 miliar barel saat ini dan lubang itu semakin dalam setiap hari. Perjalanan untuk kembali akan panjang,” kata Sawan.(*)

TERPOPULER