Virus Nipah: Gejala, Penularan, dan Penanganan setelah Kasus di India

SUMBARNOW.ID-Dua kasus virus Nipah dikonfirmasi di India, melibatkan dua perawat berusia 25 tahun di West Bengal, sehingga negara tetangga seperti Thailand dan Nepal meningkatkan pengawasan kesehatan.

World Health Organization (WHO) melaporkan tim respons wabah telah dikerahkan, sementara Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memantau situasi. Virus ini dapat menular melalui kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik yang awalnya ditemukan pada hewan, namun bisa menular ke manusia.

Virus ini pertama kali teridentifikasi pada 1999 setelah wabah di Malaysia dan Singapura menyerang babi dan manusia, menurut CDC.

Penularan umumnya melalui kelelawar buah, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta melalui kontak erat atau cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Gejala dan Dampak Kesehatan

Gejala muncul 4–14 hari setelah terpapar, dengan demam sebagai gejala utama. Gejala lain meliputi sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, dan muntah.

CDC menyatakan diagnosis dini sulit karena gejala mirip penyakit lain. Virus Nipah dapat menyebabkan disorientasi, kantuk berlebihan, kejang, hingga ensefalitis.

Kondisi parah dapat berkembang menjadi koma dalam 24–48 jam, dengan angka kematian antara 40–75%. Beberapa pasien yang selamat mengalami kejang persisten atau perubahan permanen lainnya.

Penanganan dan Perawatan

Saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk virus Nipah. Perawatan hanya berupa penanganan gejala dengan dukungan medis, termasuk istirahat dan cairan.

Beberapa terapi sedang dikembangkan, seperti antibodi monoklonal yang meniru sistem kekebalan tubuh, serta remdesivir, obat infus yang digunakan pada COVID-19 dan menunjukkan hasil positif pada primata non-manusia.

“Obat antibodi monoklonal sudah melalui uji klinis fase I dan digunakan secara compassionate,” kata Dr. Diana Finkel, profesor asosiasi kedokteran di Rutgers New Jersey Medical School, seperti dikutip dari ABC News, Kamis (29/1/2026).

Risiko Penyebaran Global

Para ahli menilai kemungkinan penyebaran global dari kasus India sangat kecil. “Dunia memang kecil, tetapi kemungkinan seseorang atau kelelawar yang terinfeksi membawa virus ini ke sini sangat tidak mungkin,” kata Dr. Finkel.

Penularan di fasilitas kesehatan biasanya terjadi karena prosedur standar tidak diikuti, seperti tidak memakai sarung tangan atau masker. “Perubahan habitat dan perilaku kelelawar yang membawa virus ini bisa meningkatkan kontak dengan manusia,” kata Dr. Peter Rabinowitz dari University of Washington menekankan faktor interaksi manusia-hewan.(*)

TERPOPULER