SUMBARNOW.ID – Harga emas melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Selasa (25/8/2026), di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan ketidakpastian politik yang kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Harga emas mencapai US$4.651 per ons dalam perdagangan Asia pada Selasa (25/8/2016), sebelum sedikit terkoreksi.
Dengan kenaikan sekitar 15 persen sepanjang Agustus, emas berada di jalur menuju kinerja bulanan terbaiknya dalam hampir 30 tahun, sejak September 1999.
Sementara itu, pada Rabu (26/8/2026) pukul 08.10 WIB, harga emas kembali bergerak naik dan menyentuh level US$4.700 per ons.
Emas selama ini dipandang investor sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian meningkat.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian politik menjadi salah satu faktor yang mendorong reli terbaru logam mulia tersebut.
Harga Emas Menuju Kenaikan Bulanan Terkuat
Kenaikan harga emas mulai terlihat sejak awal Agustus. Saat itu muncul optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat untuk memulihkan gencatan senjata di Timur Tengah serta membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, perkembangan tersebut belum terwujud. Meski demikian, harga emas justru terus melanjutkan penguatan.
Investor kini juga menunggu data inflasi Amerika Serikat serta pidato Ketua Federal Reserve AS, Kevin Warsh, yang menjadi perhatian pasar.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran di pasar obligasi pemerintah mengenai inflasi serta rencana perpajakan dan belanja Donald Trump.
Emas Berpeluang Menuju US$5.000
Analis pasar dari broker IG, Tony Sycamore, memperkirakan penurunan harga emas berpotensi tetap mendapat dukungan dari pembeli.
Menurutnya, emas berpeluang bergerak menuju level resistensi berikutnya di kisaran US$4.900 hingga US$5.000 per ons.
Reli emas yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari tren penguatan yang telah dimulai sejak 2025.
Penguatan tersebut terjadi setelah Trump pertama kali mengumumkan penerapan tarif terhadap barang impor yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan perdagangan global.
Harga emas kemudian menembus US$4.000 per ons untuk pertama kalinya pada Oktober tahun lalu, sebelum melewati US$5.000 pada Januari dan mencapai rekor tertinggi pada akhir bulan tersebut.
Pergerakan itu antara lain dipengaruhi perubahan kebijakan Amerika Serikat serta ketidakpastian politik di sejumlah negara, termasuk Prancis dan Jepang.
Bitcoin Ikut Menguat
Pergerakan aset safe haven tersebut juga diikuti kenaikan harga Bitcoin.
Harga Bitcoin menembus US$80.000 pada Selasa dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, yang belum terlihat sejak pertengahan Mei.
Analis mengaitkan penguatan Bitcoin dengan pelemahan dolar AS serta sejumlah faktor yang juga mendorong harga emas.(*)












